Bukti Baru Bahwa Schapelle Corby Tidak Bersalah Yang Diabaikan

Sebuah Pengorbanan Yang Bersifat Politics (Schapelle Corby)Arifin Wardiyanto: Dukungan Grasi Schapelle Corby
Hakim Agung Ayyub:
Corby Harusnya Bebas
34 Tersembunyi Fakta - Schapelle
Corby (Rinci)


SURAT UNTUK PEMERINTAH INDONESIA

Masih ingatakah ada kasus wanita Australia bernama Schapelle Corby?

Nona Corby di tangkap di Bandara Internasional Ngurah Rai Denpasar pada tanggal 8 October 2004 dengan ganja sebarat kurang lebih 4 kg di dalam barang bawaannya. Dia dinyatakan bersalah oleh Pengadilan Negeri Denpasar dan dijatuhi hukuman 20 tahun penjara. Persidangan dibuka kembali 2 bulan kemudian dan saksi-saksi baru memberikan kesaksian mereka. Hukumannya dikurangi menjadi 15 tahun penjara oleh Pengadilan Tinggi. Kemudian divonis ulang menjadi 20 tahun penjara oleh Mahkamah Agung. Nona Corby telah mengajukan permohonan keringanan hukum dari presiden dan sedang menuggu sebuah keputusan.

Selama persdangan ulang dan upaya banding yang dilakukan berikutnya, bukti baru muncul yang seharusnya sudah dimiliki oleh tim pembela Nona Corby tetapi bukti baru tersebut masih ditahan atau disimpan.

Bukti baru tersebut di simpan/ditahan agar tidak dimiliki oleh para pengacara yang membela Nona Corby oleh pejabat tinggi Australia. Hal tersebut baru diketahui menjelang akhir tahun 2011.

Meskipun bukti baru tersebut telah diajukan kepada semua lembaga dan instansi pemerintah Australia yang berwenang dan juga kepada jaringan media Australia yang utama, pada kenyataannya bukti baru itu telah diabaikan.

Bukti baru tersebut masih disembunyikan bukan saja dari masyarakat Australia tetapi juga dari masyarakat Indonesia.

Saya yakin Anda pasti akan menggangap bukti baru ini mengejutkan dan pastilah anda akan menjadi marah karena mengetahui bukti yang sangat penting justru dengan sengaja disembunyikan dari pengadilan di Indonesia oleh sebuah pemerintah negara asing.

Penahanan bukti ini mengacaukan jalannya keadilan dalam kasus Nona Corby dan saya yakin membangkitkan penghinaan peraturan hukum di Indonesia.

Sehubungan dengan sikap diam pemerintah Australia tentang bukti baru ini, surat ini merupakan satu-satunya cara bagi anda untuk dapat menerima informasi ini.

Ada tiga hal utama tentang bukti baru tersebut:
  • Catatan screening (pemeriksaan dengan alat pengindra) yang hilang;
  • Bertambahnya berat barang bawaan;
  • Sebuah rekaman percakapan rahasia diantara dua pria yang sedang membicarakan pengambilan ganja dari bandara Sydney.

Saya akan membahas ketiga hal terebut secara terpisah.





1. Bukti Baru: Catatan Screening Yang Hilang

Korespondensi yang diperoleh melalui pencarian di Freedom of Information jelas-jelas menegaskan:
  • Nomor tanda pengenal tas jinjing (body-board bag) Nn. Schapelle Corby tidak disimpan atau dicatat pada sistem screening bagasi (barang-bawaan) di Sydney Airport Corporation Limited (SACL);
  • Tiga buah tas lain yang diperiksa oleh Nn. Corby ada dalam catatan sistem screening SACL tetapi tas jinjingnya tidak;
  • Tas jinjing Nn. Schapelle Corby merupakan satu-satunya tas yang tidak di-screening pada penerbangan itu atau tidak terdapat pada sistem screening;
  • Semua tas yang bertujuan ke Indonesia diwajibkan untuk dilakaukan screening.

Sebelum bukti baru ini muncal, pihak otoritas Australia membuat tim pembela Nn. Corby percaya bahwa tidak ada data tentang tas pada penerbangan tersebut.

Beberapa hari setelah menyadari adanya bukti baru ini Senator Christopher Ellison, yang waktu itu Menteri Kehakiman dan Bea cukai dalam pemerintahan Pendana Menteri Howard menulis surat kepada Pengacara Nn. Corby, Hotman Paris Hutapea tetapi sama sekali tidak menyebutkan mengenai bukti baru tersebut.

Juga tidak disebutkan tentang bukti baru tersebut beberapa hari berikutnya ketika Tn. Hutapea mengajukan pertanyaan khusus mengenai proses screening di SACL.

Sebagai kesimpulan, sebenarnya para pejabat tinggi Australia yang menyadari adanya bukti baru ini menyimpan atau menyembunyikannya dari tim pembela Nn. Corby. Mantan Perdana Menteri John Howard, mantan Komisioner AFP Mick Keelty, mantan Menteri Kehakiman dan Bea Cukai Senator Christopher Ellison dan kepala Sydney Airport Corporation Limited yang sekarang, Max Moore-Wilton semuanya menyadari adanya bukti baru ini.

Lihat Lampiran 1 Di Bawah




2. Bukti Baru: Bertambahnya Berat Barang Bawaan

Ketika Schapelle Corby memeriksa tas-tasnya di bandara Brisbane dia melakukannya tidak terjadi percecokan apupun dan tidak ada tambahan biaya kelebihan berat. Tetapi ketika catatan penerbangan Qantas dicek setelah penangkapannya, catatan tersebut menunjukan bahwa tas-tasnya kelebihan berat 5 kg. Menurut catatan Qantas berat 5 kg tersebut ditambahkan pada berat tasnya setelah dia masuk ke pesawat.

Catatan ini, sebagaimana informasi kurangnya catatan screening, justru akan merupakan bukti utama yang penting bagi pengadilan banding dan, sekali lagi, catatan tersebut mendukung pernyataan bahwa tas Nn. Corby telah dimasuki sesuatu setelah ia memasuki pesawat. Tetapi pihak Qantas, pemeritah Australia dan instansi-instansinya kesemuanya menahan atau menyembunyikan informasi ini dari Schapelle Corby dan juga pengadilan Indonesia. Semua bukti ini, kalau diungkap, akan mencerminkan betapa buruknya kemanan di bandara-bandara Australia.



3. Bukti Baru: Rekaman Percakapan

Pada bulan Maret 2012 muncal informasi mengenai percakapan diantara dua pria yang sedang membicarakan pengiriman ganja dari Queensland yang akan diselundupkan melalui Bandara Sydney.

Salah satu dari kedua pria dalam rekaman tersebut adalah William Miller, juga dikenal sebagai William Moss. Rekaman tersbut merupakan percakapan pribadi antara William Miller dan pria yang menawarkan pekerjaan kedadanya untuk mengambil kiriman ganja.

Sebuah pledoi di New South Wales Crime Commission dimana William Moss dipanggil menegaskan isi rekaman tersebut. NSWCC dengan jelas mengetahui bahwa percakapan tersebut membenarkan cerita William Miller.

Mengapa buki baru ini penting?

William Miller langsung maju kedepan ketika mengetahui apa yang terjadi pada Nn. Corby. Dia berupaya untuk memberi tahu masyarakat tentang keterlibatannya dan bahwa Nn. Corby tidak bersalah, tetapi upayanya dibuang begitu saja oleh media Australia. William Miller menghabiskan 7 tahun untuk menegaskan bahwa ceritanya itu benar tetapi upayanya tersebut tidak pernah dilaporkan di media.

Sekarang kita tahu bahwa bukan saja pengakuan Miller benar adanya tetapi juga bahwa AFP dan intansi pemerintah lainya sebenarnya mengetahui bahwa dia menceritakan kebenaran. AFP telah merahasiakannya setidak-tidaknya sejak bulan Juli 2005, tetapi baik AFP maupun New South Wales Crime Commission tidak memberitahukan kepada tim pembala Nn. Corby.

Lihat Lampiran 2 Di Bawah




Pemeritah Australia dan instansinya telah jelas-jelas mengacaukan jalan tercapainya keadilan di sebuah pengadilan Indonesia.

Informasi yang sangat penting bagi tim pembela Nn. Schapelle Corby di Indonesia secara sengaja disembunyikan oleh pemeritah Australia dan instansinya. Informasi tersebut sesungguhnya sudah berada di banyak tangan pejabat tinggi pemerintah Australia jauh sebelum dimulainya persidangan-ulang Nn. Schapelle Corby dan permohonan banding yang dibuat selanjutnya, tetapi tidak pernah diungkapkan kepada para pengacara yang membelanya atau kepada pengadilan.

Persidangan Nn. Corby dan upaya permohonan banding selanjutnya tentulah menyebabkan sentimen anti-Indonesia yang besar di Australia yang dengan mudah dapat dicegah oleh pemerintah Howard hanya dengan sekedar mengajukan bukti kepada tim pembela Nn. Corby dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk berjuang membantu kliennya. Tetapi pemerintahan Howard memilih untuk bersikap diam karena kenyataannya terlalu memalukan.

Sikap diam mereka yang membatu ini berkaitan dengan bukti baru ini benar-benar munafik bila kita mengingat pernyataan regular pemerintah Australia tentang bagaimana mereka tidak bisa campur tangan dalam hak dan proses hukum sebuah negara asing. Ini merupakan pengikisan bagi peraturan hukum Indonesia yang dilakukan oleh pemerintah Australia dan media yang sepaham dengannya.

Bayangkan kemarahan yang akan dirasakan oleh warga Negara Australia andaikata pemerintah Indonesia melakukan hal yang sama dalam sebuah kasus pengadilan di Australia. Mereka pasti mempunyai hak sepenuhnya untuk marah dan menuntut agar semua kersalahan untuk diperbaiki.

Ketika segelintir orang memiliki kekuasaan untuk secara diam-diam menentukan siapa yang akan menerima keadilan dan siapa yang tidak, maka tidak ada lagi Aturan Hukum - tidak di Australia dan tidak juga di Indonesia.

Saya berharap anda merasakan apa yang saya rasakan tentang campur tangan kriminal yang besar ini didalam sistem pengadilan anda yang dilakukan oleh negara tetangga yang justru kelihatanya jujur dan demokratis.

Kesalahan ini harus diperbaiki dan harus diselesaikan dengan cara yang sangat transparan sehingga warga negara kedua bangsa tersebut akhirnya mengetahui kebenaran yang sesungguhnya dan bukan versi yang di rekayasa yang diberikan oleh media Australia.

Salam,



Warga Negara Australia

-----------------------



Lihat Lampiran 1


Catatan Screening yang Hilang

Berikut adalah sebuah catatan yang baru-baru ini didapatkan dari AFP kepada Menteri Kehakiman dan Bea Cukai, Christopher Ellison, tertanggal 6 Juli, 2005.



Catatan ini dengan jelas menegaskan bahwa Tn. Max Moore-Wilton, CEO SACL, menghubungi Menteri Ellison dan menyatakan bahwa nomor kartu nama (tag) tas jinjing Nn. Corby tidak tercatat atau terekam pada sistem screening.

Menteri Kehakiman dan Bea Cukai, Christopher Ellison, menanggapi AFP:



Surat itu memberikan keterangan lebih lengkap tentang surat Tn. Max Moore-Wilton: bahwa datanya terdapat pada tiga tas ketika Schapelle Corby masuk, tetapi tidak bagi tas jinjingnya.

Ellison menegaskan bahwa ia mengetahui arti penting secara hukum dari informasi baru ini dengan memberikan komentar seperti berikut bahwa hal ini “dapat menjadi faktor yang relevan bagi pertimbangan apapun, apakah sesungguhnya telah terjadi campur tangan dengan tas itu.”

Pada tanggal 11 Juli, 2005, Tn. Keelty mengirimkan surat kepada Department of Transport and Regional Services (DOTORS) (Departemen Transportasi dan Pelayanan Umum):



DOTORS memberikan jawaban kepada Keelty:



Hal ini dengan jelas menegaskan bahwa:
  • Semua tas yang menuju ke Indonesia wajib discreening (diperiksa dengan alat pengindra).
  • Kelebihan berat seperti tas jinjing itu seharusnya sudah diperiksa secara manual.
Sistem penanganan bagasi (barang bawaan) sifatnya terbuka bagi penyalahgunaan dan korupsi (penyelewengan).
Pada tahap ini, Keelty dan para petugas lainnya sudah mengetahui bahwa tas jinjing Nn. Schapelle Corby, dan bahwa hanya tas itu saja, yang tidak diperiksa dengan alat pengindra (screening) atau ada sama sekali pada cacatan atau rekaman system tersebut.

Pada tanggal 8 Juli, hanya dua hari setelah membahas bukti baru ini dengan Tn. Keelty, Ellison mengirimkan surat kepada Pengacara Schapelle Corby, Hotman Paris Hutapea:


Walaupun ia secara langsung membahas pemindahan tas di Bandara Sydney, tetapi ia menahan atau menyembunyikan bukti baru tersebut. Selanjutnya, komentar bahwa “tidak seorangpun diantara staff mereka melakukan kontak dengan Nn. Corby atau dengan barang-barang bawaannya selama pemindahan tersebut” sungguh-sungguh menyesatkan.

Pada tanggal 11 Juli 2005, hanya lima hari setelah pertukaran percakapan antara Ellison dan Keelty, pengacara Schapelle Corby, Hotman Paris Hutapea, mengajukan sebuah pertanyaan langsung:


Ellison dan Howard juga menerima korespondensi ini secara langsung (salinan surat ini diperoleh dari Kantor Perdana Menteri).

Dua hari kemudian, pada tanggal 13 Juli 2005, Ellison menjawab. Walaupun ia langsung dengan pertanyaan itu, Ellison sekali lagi gagal untuk memberikan bukti baru itu:


Sesungguhnya, tak satupun diantara orang-orang ini memberikan bukti baru ini di tingkat manapun. Hal itu dibantah oleh Schapelle Corby dan tim pembelanya selama proses hukumnya.

Kesimpulan:

Ellison dan Keelty tidak diberikan bukti baru ini kepada tim pembela Schapelle Corby sehubungan dengan pemeriksaan tas dengan alat pengindra (screening), bahkan ketika ditanya langsung tentang hal itu.

Mereka juga menahan atau menyembunyikan informasi, yang diberikan oleh DOTORS, bahwa penerbangan ke Indonesia wajib 100% untuk discreen (diperiksa dengan alat pengindra) dan bahwa situasi di Bandara Sydney sangat terbuka bagi penyalah-gunaan.





Lihat Lampiran 2


Catatan minuta rahasia dari New South Wales Crimes Commission (NSWCC):


Bagian berikut ini terdapat didalam dokumen ini:


Naskah tersebut berbunyi sebagai berikut:

Pada bulan Juli 2005, para menyidik dari Gymea mengeluarkan materi LD (Listening Device/Alat Pendengar) mungkin relevan dengan tuntutan kasus Narkoba Corby. Informasi yang muncul dari rekaman percakapan antara Orang yang Berkepentingan (POI) Gymnea John Dunks dan William Moss menunjukkan bahwa Moss pada saat itu sedang menunggu pengiriman ganja dari Queensland yang akan diselundupkan melalui Bandara Sydney di sekitar bulan Oktober 2004 ketika terjadi kasus penangkapan ganja Corby tersebut. Hal ini telah ditindak-lanjuti oleh Warren Grey dari AFP.

[LD singkatan “Listening Device/Alat Pendengar”; POI singkatan “Person of Interest/Orang yang Berkepentingan”]



Sebuah Pengorbanan Yang Bersifat Politics (Schapelle Corby)Arifin Wardiyanto: Dukungan Grasi Schapelle Corby
Hakim Agung Ayyub:
Corby Harusnya Bebas
34 Tersembunyi Fakta - Schapelle
Corby (Rinci)






Kembali ke Halaman Depan Expendable Project




.